Pura Ratu Ayu Mas Bintang — Desa Tejakula.
Pura Ratu Ayu Mas Bintang — Desa Tejakula.
Pura Ratu Ayu Mas Bintang terletak di wilayah Desa Tejakula, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali Utara. Pura ini berdiri di bawah perbukitan yang bernama Bukit Mujung atau Bukit Ujung-Ujungan.
Sesuai namanya, pura ini adalah tempat pemujaan bagi Ida Ratu Ayu Mas Bintang, sosok Bhatari yang dipandang sebagai pelindung, pemberi kemakmuran, dan penuntun jalan yang benar bagi masyarakat setempat. Kata "Mas" bermakna emas — lambang kemuliaan dan kemakmuran — sedangkan "Bintang" melambangkan cahaya penuntun di tengah kegelapan.
Sejarah berdirinya pura ini erat kaitannya dengan jejak spiritual dan peradaban kuno di wilayah Tejakula. Konon, Ida Ratu Ayu Mas Bintang menampakkan diri di tempat yang kini menjadi pura ini melalui tanda-tanda cahaya dan petunjuk leluhur, sehingga masyarakat membangun pelinggih di sana sebagai bentuk bakti dan penghormatan.
Nama Tejakula sendiri memiliki makna yang indah — konon dahulu kala ada cahaya terang benderang yang turun dari langit dan menyinari wilayah ini, dari sinilah muncul nama Teja (cahaya) dan Kula (keluarga/daerah) — "Daerah yang bercahaya". Pura Ratu Ayu Mas Bintang menjadi salah satu titik di mana cahaya itu diyakini bersemayam. Lingkungan pura dikelilingi hutan dan pepohonan rimbun, menjadikannya tempat yang sejuk dan damai.
Hari Pujawali atau Piodalannya jatuh pada saat Purnama Sasih Kapat menurut perhitungan kalender Bali. Pujawali atau Piodalan di pura ini menjadi momen berkumpulnya warga untuk bersembahyang, memohon keselamatan, kesehatan, kemakmuran dan perlindungan. Masyarakat memohon kepada Ida Ratu Ayu Mas Bintang agar dilindungi dari bencana, penyakit, dan hal-hal yang tidak diinginkan.
-
Pura ini juga menjadi pengingat agar manusia menjaga keseimbangan alam. Kebakaran hutan yang pernah terjadi di sekitar pura menjadi peringatan agar setiap orang bertanggung jawab atas keselamatan lingkungan.
Ida Ratu Ayu Mas Bintang bukan sekadar pelindung wilayah — beliau adalah bintang penuntun: memberikan arah ketika hidup terasa gelap, meneguhkan hati ketika ragu, dan mengingatkan bahwa kemuliaan sejati bukan pada harta, melainkan pada kebaikan yang menyinari sesama. Seperti bintang yang tetap bersinar meski tidak meminta dipuji, demikian pula kita diharapkan berbuat baik tanpa mengharap pujian, setia pada jalan kebenaran, dan menjadi cahaya bagi orang lain.
Komentar