Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2026

Kisah Wajik Cokor di Tejakula

Kisah Wajik Cokor di Tejakula   Dalam Prasasti Batur Dan Prasasti Sukawana dikisahkan bahwa pada jaman dahulu kala, di kawasan Kanca Satak — ujung timur wilayah Tejakula dekat Pura Pegonjongan — seorang perempuan tua renta yang sebenarnya adalah penjelmaan Ida Bhatari Dewi Danu, datang menjajakan air yang dijunjung dalam kendi. Saat berjalan, beliau terpeleset sehingga air sedikit tertumpah, lalu melanjutkan perjalanan ke arah barat. Di Desa Les, masyarakat membeli air itu seharga dua kepeng. Beliau kemudian melanjutkan perjalanan hingga tiba di desa Hiliran, atau sekarang bernama Tejakula. Di Tejakula, salah seorang warga membeli air seharga tiga Keteng. Air yang tersisa akhirnya dituangkan di wilayah Air Sanih, dan dari situlah mata air itu mengalir hingga sekarang.   Masyarakat kemudian menyadari bahwa perempuan tua itu bukan orang biasa, melainkan Dewi Danu yang datang menguji ketulusan umat dalam menghargai air sebagai sumber kehidupan. Sebagai bentuk rasa syukur dan peng...