Kisah Wajik Cokor di Tejakula

Kisah Wajik Cokor di Tejakula
 
Dalam Prasasti Batur Dan Prasasti Sukawana dikisahkan bahwa pada jaman dahulu kala, di kawasan Kanca Satak — ujung timur wilayah Tejakula dekat Pura Pegonjongan — seorang perempuan tua renta yang sebenarnya adalah penjelmaan Ida Bhatari Dewi Danu, datang menjajakan air yang dijunjung dalam kendi. Saat berjalan, beliau terpeleset sehingga air sedikit tertumpah, lalu melanjutkan perjalanan ke arah barat. Di Desa Les, masyarakat membeli air itu seharga dua kepeng. Beliau kemudian melanjutkan perjalanan hingga tiba di desa Hiliran, atau sekarang bernama Tejakula. Di Tejakula, salah seorang warga membeli air seharga tiga Keteng. Air yang tersisa akhirnya dituangkan di wilayah Air Sanih, dan dari situlah mata air itu mengalir hingga sekarang.
 
Masyarakat kemudian menyadari bahwa perempuan tua itu bukan orang biasa, melainkan Dewi Danu yang datang menguji ketulusan umat dalam menghargai air sebagai sumber kehidupan. Sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan, masyarakat Tejakula menetapkan upacara Wajik Cokor, yang juga dikenal dengan nama Ngebekin Banyu Cokor. Upacara ini dilaksanakan dengan memohon tirta suci ke Pura Batur dan Pura Sukawana, yang selanjutnya dipersembahkan ke mata air-mata air di wilayah Tejakula.
 
Kata Wajik sendiri melambangkan kebersamaan yang erat. Sedangkan Cokor berarti sumber atau pangkal, merujuk pada sumber air yang berasal dari kawasan Ulun Danu Batur. Dengan demikian, upacara ini bukan sekadar memohon air semata, melainkan juga memohon kesuburan bagi sawah-sawah masyarakat serta kebersihan air untuk kebutuhan kehidupan sehari-hari, dan dilaksanakan oleh seluruh Krama desa yang tergabung dalam kelompok Subak.
 
Dalam pelaksanaannya, warga yang telah ditunjuk bersama-sama berangkat ke Pura Batur dan Pura Sukawana untuk memohon tirta suci. Setelah tiba kembali di Tejakula, Tirta dan Bija Ratus dibagikan pada Krama lalu dipercikkan atau ditaburkan di sawah atau kebun masing masing agar hasil pertanian menjadi subur. Semua warga turut serta dalam Ngayah, dan tidak ada yang diperbolehkan mengambil Tirta sebelum upacara selesai sepenuhnya.
 
Lontar Usana Bali adalah Lontar yang  membahas tentang  pemujaan terhadap sumber air dan Dewi Danu. Sedangkan Kisah hubungan ritual masyarakat pesisir utara dengan kawasan pegunungan Batur termuat dalam Lontar Purana Bali, diperkuat oleh catatan turun-temurun yang tertulis dalam Dokumen Desa Adat Tejakula. Inti dari Wajik Cokor sangat sederhana namun bermakna yaitu belajar menghargai apa yang kita terima, senantiasa menjaga sumber kehidupan, dan tidak pernah lupa dari mana segala kebaikan itu berasal. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pura Dalem Kangin Tejakula

Pura Ratu Gede Sambangan Tejakula.

Pura Sekar Desa Tejakula, Simbol Kerukunan Lintas Keyakinan.